Thursday, March 14, 2013

Cerita Rakyat | Legenda Gunung Kelud di Jawa Timur

Gunung Kelud adalah gunung yang terletak di Kediri - Jawa Timur yang merupakan perbatasan dengan Blitar. Gunung Kelud memiliki Legenda yang sangat menarik sehingga bisa menjadi cerita untuk anak anak kita agar mereka mengenal Cerita Rakyat Nusantara yang memiliki keaneka ragaman. Gunung Kelud memiliki kisah kisah yang menarik, termasuk Fenomena Anak Gunung Kelud yang baru terjadi beberapa tahun yang lalu. 

Gunung Kelud menyimpan kisah yang sangat menarik bila dibaca dan mungkin juga bila di filmkan. 

Alkisah, pada waktu itu ada seorang raja yang bernama Prabu Brawijaya yang duduk di kursi kerajaan Majapahit  yang memiliki seorang puteri yang sangat cantik Jelita, dia adalah Diah Ayu Pusparini. Karena kecantikannya itu sehingga sangat banyak pemuda dan pangeran dari kerajaan lain yang ingin melamar Puteri Brawijaya itu. 

Tidak ingin mengecewakan pangeran dari kerajaan lain itu dan kwatir di serang oleh kerajaan lain Prabu Brawijaya menggelar Sayembara, Barang siapa mampu mengangkat Gong Kiai Sekar Delima dan merentang busur sakti Kyai Garudayeksa maka dialah yang berhak mempersunting Puteri Diah Ayu Pusparini.

Busur dan Gong disiapkan satu persatu pangeran dan pemuda yang berminat meminang sang puteri pun mencoba namun tak satupun  yang berhasil melakukannya, bahkan banyak kejadian bila pemuda yang ikut sayembara itu terkena musibah patah tangan dan patah pinggang, encok dll.

Ketika Sayembara mau ditutup, kemudian datanglah seorang pemuda berkepala Lembu (sapi) yang mengajukan niatnya untuk menarik busur Kyai Garudayeksa dan Gong Kyai Sekar Delima. dan Sang Prabu Brawijaya mengizinkan pemuda itu, dan beranggapan tidak mungkin pemuda buruk rupa itu mampu melakukan tugas itu.

Tidak disangka, ternyata pemuda yang bernama Lembu Suro itu mampu menarik busur Kyai Garudayeksa yang diikuti tepuk tangan penonton - namun puteri dan prabu brawijaya merasa resah karena mereka tidak ingin memiliki menantu dan  suami yang memiliki wajah seperti lembu.

Setelah berhasil menarik busur, kemudian lembu Suro pun ternyata mampu mengangkat Gong Kyae Sekar Delima. Prabu tidak ingin mengingkari janjinya sehingga mengumumkan sayembara bahwa pemuda ini berhak menikahi puterinya  karena berhasil melewati ujian yang disyaratkan.

Menjelang hari pernikahan Puteri Dyah Ayu Pusparani memiliki satu lagi permintaan sebelum Lembu Suro benar benar menikahinya yaitu dia harus membuat sumur dipuncak gunung kelud untuk mereka mandi setelah menikah nanti - namun waktu membuat itu hanya satu malam.

Waktu punditentukan. Lembu Suro, para pejabat kerajaan, Prabu Brawijaya dan Puteri Dyah Ayu Pusparani pun hadir di puncak gunung kelud untuk menyaksikan Lembu Suro mampukah mengikuti ujian terakhirnya. Mulai petang itu Lembu Suro menggali puncak gunung kelud dengan kedua tanduk dikepalanya dan semakin malam tampak Lembu Suro akan berhasil. 

Namun sang Puteri kwatir bila lembu suro benar benar berhasil dan akhirnya menjadi suaminya, maka meminta kepada sang ayah agar mengupayakan pencegahan agar pernikahan itu tidak terjadi karena lembu suro gagal mempersembahkan sumur dipuncak gunung kelud.

Sang Raja memutar otak kemudian dia memutuskan mengubur Lembu Suro, kemudian Sang Prabu memerintahkan prajurit untuk mengubur Lembu Suro didalam sumur yang digalinya, Lembu Suro menjerit dan minta tolong agar tidak dikubur namun prajurit terus menimbun Lubang sumur itu dengan batu besar dan tanah galian sumur itu. Di akhir menjelang kematiannya Lembu Suro bersumpah atas kekejian sang Puteri dan Raja kepadanya :

"Dengarkan Sumpahku, Kediri mbesok bakal pethuk piwalesku, yaitu : kediri bakal dadi kali, Blitar bakal dadi latar, Tulung agung bakal dadi Kendung"

Atas sumpah itu, Raja pun ketakutan sehingga untuk mencegahnya dibuatkanlah tanggul besar yang sekarang menjadi gunung pegat. dan menyelenggarakan Larung Saji di puncak gunung kelud di setiap bulan Suro.

kemudian setiap terjadi gunung meletus warga pun beranggapan bila Arwah Lembu Suro sedang mengamuk akibat kekejian ratu Dyah Ayu Pusparini dan Raja Brawijaya.

Sekian...


Reaksi:

2 comments:

  1. halah ga bisa di copas padahal bagus ceritanya -,-

    ReplyDelete
  2. INI CERITA BAGUS PATUT DI BUAT FILM. TAPI JGN PAKE YG MODERN BENAR2 KAYAK JADUL SEPERTI PERFILIMAN TAHUN 80 AN

    ReplyDelete

Silahkan Berkomentar, Terkait Artikel ini...