Saturday, June 30, 2012

Renungan Suami Setia

Renungan Suami Setia - Sudah lama ingin kutuliskan suara hati yang bergemuruh ini, namun aku merasa selama ini sulit sekali untuk mengungkapkannya karena banyak hal yang mungkin masih menghalangi benakku, setiap waktu angan melayang menggelayut sukma dan menghantarkan nada nada asmara yang tak kunjung tujuannya. Untuk keluargaku dan keluarga kita pada umumnya, miris kumendengar dan melihat betapa berat perjuangan suami istri untuk mempertahankan keutuhan Rumah Tangga/kelanggengan jalinan pernikahan. Judul ini entah mengena atau tidak yang pasti ini merupakan tulisan  dari suara hati penuh gejolak yang ingin membuka tirai tak berberbingkai.

Renungan Suami Setia - Setia dalam arti sebenarnya maupun Setia - selingkuh yang tiada akhir...

Masih jelas kumengingat ucapan sebuah suara yang sangat dekat ditelingaku : 
Dikala susah dan penuh perjuangan sang Isteri pertama akan selalu setia menemani, mendampingi, membesarkan anak anak yang dimulai dari... 
betapa beratnya mengandung, 
betapa sulit dan sakitnya melahirkan, 
betapa sabarnya sang isteri harus menyusui anak anak - peluh bercucuran dikala menyusui bayi di usia 1-5 hari.
setiap malam harus rela bangun untuk mengganti popok anakmu - wahai suami...
  • Setiap malam tangisnya bayi akan membangunkan isterimu dari tidurnya karena harus minum susu. sementara raga sebenarnyar telah lelah.
  • Setiap pagi masih harus mencuci pakaian anakmu, pakaianmu - wahai suami...
  • Setiap pagi masih harus menyiapkan sarapan pagi untukmu
  • setiap hari harus membersihkan rumah demi kesehatan keluargamu
  • setiap hari harus menyeterika pakaian kerjamu agar kamu tampak rapi dan bersih
  • setiap hari harus memandikan anakmu -wahai suami-
  • yang harus mengajarkan anakmu agar mandiri.
  • Belum lagi harus menghadapi anak anak yang mulai nakal karena banyak akal
  • Disaat anak anak sakit, sanggupkah bapak memeluk dan mendiamkan tangisnya anak? sepertinya akan sulit dan mungkin lebih memilih tidur dan membiarkan sang isteri yang menjaganya.

Itulah beberapa rutinitas sang isteri setiap hari yang bisa membuatnya merasa jemu, bosan dan jenuh... namun tetap dijalaninya dengan penuh kesabaran...

Sadarkah kau wahai suami yang setia? 

Mulai hari ini, dengan tulisan ini... Renungkanlah...
Bangunlah tengah malam dan pandangilah isterimu yang sedang tidur pulas, sepertinya dia sangat kelelahan setelah seharian merawat anak anakmu dan urusi urusan rumah tanggamu. Pandangilah anak anakmu yang tidur pulas tanpa dosa.

Sekarang lihat dirimu wahai suami! dikala kamu telah meraih sukses dan kekayaan berlimpah...
Keluar dari rumah pamitmu berangkat kerja... 
Sungguh teganya dirimu menyempatkan diri melirik wanita lain
Sungguh teganya dirimu menyembunyikan wanita lain dari isterimu yang dengan setia menantimu dirumah.
Sungguh teganya dirimu menghianati anak dan isterimu...
Sungguh teganya dirimu menelantarkan anak dan isterimu...
oh... sungguh teganya dirimu masih memukulnya gara gara persoalan sepele.


Di usiamu menapaki senja...
Dikala maut mendekatimu
Dikala raga telah bau tanah
Dikala burung pipitmu tak sanggup lagi bernyanyi.
Siapa yang ada disampingmu...

Adakah dia? wanita yang bertubuh seksi dan masih muda belia yang pernah kau pacari diwaktu senggangmu.
Adakah dia? wanita lain yang engkau sembunyikan dari keluargamu...
Adakah dia? wanita lain yang engkau manjakan dengan harta bendamu...

TIDAK!,  hanya isteri pertamamulah yang setia...

Karena itu wahai suami...
Sebelum semua terlambat...
Sudahilah petualangan harammu...
Ingat hari tuamu... ingat kematianmu... ingat pula dikala Tuhan marah dan menarik semua kekayaanmu.
Tak ada yang abadi di dunia ini...
Karena itu belajarlah untuk terus jujur...
Sayangilah keluargamu...
karena Engkau adalah pemimpin dalam keluargamu...
bila engkau sukses memandunya...
Dia yang akan mengantarkanmu ke Surga Firdaus...

Saat yang tepat untuk merenung dan memikirkan ini adalah disaat tengah malam, dikala anak dan isterimu tertidur pulas... lihat dan pandangilah mereka tanpa dosa yang selalu menantimu... 

Monggo di komentari...
Atau lihat renungan kami yang lain : Renungan Malam 2012


Reaksi:

0 komentar:

Post a Comment

Silahkan Berkomentar, Terkait Artikel ini...